Kamis, 08 September 2011

gambaran ahklak rasulullah.Saw


A.  Ahlak Rasulullah SAW di Mata Islam
      Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa salah satu sebab diutusnya Rasulullah Saw. adalah untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak manusia. Bukan sebuah misi yang ringan karena begitu jahiliyahnya masyarakat Arab ketika itu sehingga dakwah beliau banyak ditentang oleh kaumnya sendiri, yaitu kafir Quraisy. Namun Allah Swt. memang sudah memiliki skenario tersendiri dengan mengutus seseorang yang bernama Muhammad bin Abdulllah, seorang yang dikenal memiliki akhlak mulia baik sebelum dia diangkat menjadi Rasul, terlebih lagi setelah beliau diangkat menjadi Rasul.
     Akhak mulia Rasulullah Saw. dalam kehidupan sehari-hari memang nilai-nilai yang terdapat di dalam Al-Qur'an, begitu ujar istri beliau yaitu, Sayyidatina Aisyah ra. ketika ditanya oleh para sahabat bagaimana sebenarnya akhak Rasulullah Saw. Sayyidatina Aisyah ra. dengan lugas mejawab bahwa akhlak beliau adalah Al-Qur'an.
   Kini 14 abad sudah berlalu, namun kita masih rutin mendengar di saat khutbah atau ceramah dalam peringatan hari besar Islam tentang akhak mulia yang menjadi keistimewaan tersendiri dari sosok Rasul akhir zaman, Rasulullah Saw.
    Dakwah yang beliau lakukan tidak hanya berkisar soal bagaimana menyembah Allah Yang Maha Esa tapi juga kepada bagaimana bersikap yang terpuji dalam bergaul kepada setiap makhluk.
   Jika selama ini kita mendapati beberapa buku atau e-book dengan membawa-bawa 'paten Nabi', seperti sifat shalat Nabi, tata cara wudhu Nabi, tata cara berhaji Nabi, maka tidak ada salahnya jika kita menekankan kepada sisi lain dari Nabi yang juga cukup penting, yaitu akhlak keseharian Nabi. Sisi ini sepertinya kurang mendapat porsi, padahal peranannya akan sangat vital dalam memajukan umat sehingga nantinya akan kita dapati umat yang 'kaaffah' atau menyeluruh, sehat dalam dan luarnya serta bagus kulit dan isinya.
    Jika buku atau e-book seperti sifat shalat Nabi, tata cara wudhu Nabi, itu dapat menimbulkan pro-kontra dikarenakan perbedaan pemahaman fiqih, maka lain halnya seandainya yang disoroti adalah akhlak keseharian Nabi, karena berbicara akhlak berarti kita berbicara tentang nilai-nilai kebaikan yang umum berlaku di masyarakat yang boleh jadi berlaku secara luas dimanapun juga kita berada.
                                                                                                        
B.   Ahklak Rasulullah Dalam kehidupan Sosial
       Dalam ribuan hadits yang terkumpul, akan kita dapati bagaimana perilaku beliau, bagaimana perilaku beliau di rumah tangga, bagaimana perilaku beliau selaku pemimpin umat, bagaimana sikap beliau terhadap tamu, tetangga, non-Muslim, orang tua, anak muda, anak-anak yatim, fakir miskin dan yang lain-lainnya.Sebagaimana firman Allah Dalam surat At-Taubah ayat 128,yanag artinya disebutkan,telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.
     Beberapa keutamaan sifat dari Rasulullah Saw. disebutkan dalam ayat di atas mulai dari penuh belas kasih, penyayang dan peduli kepada umat, bahkan sampai di akhir hayatnya beliau tetap mengingat-ngingat umatnya.
   Sifat terpuji lainnya yang mencerminkan kemuliaan akhlak beliau adalah tidak pernah membeda-bedakan orang, beliau memandang sama kepada setiap orang, tidak mempedulikan harta, turunan, pangkat atau warna kulit.Sahabat beliau yang bervariasi,diantaranya :
- Bilal bin Rabah ra., seorang budak hitam kelam
- Salman Al-Farisy, seorang Persia
- Abdurrahman bin Auf, seorang saudagar kaya raya
- Mush'ab bin Umair, seorang bangsawan Quraisy
Empat Sahabat di atas datang dari latar belakang yang berbeda, namun keempatnya memeluk agama Islam karena melihat kebenaran ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw. serta keluhuran akhlak yang ditunjukkan oleh pembawanya.

C.   Meneladani Ahklak Rasulullah di Dalam Salah satu Riwayat
.
     Rasulullah Saw adalah figur teladan abadi sepanjang zaman. Kewibawaan dan sikap-sikap pribadinya telah dicatat dalam berbagai buku sejarah kehidupan beliau (sirah nabawiyah).
    Dalam salah satu riwayat telah dijelaskan.Sumamah adalah tokoh Hunaifiyah yang banyak membunuh para pemeluk agama Islam. Namun pada akhirnya, ia tertangkap dan menjadi tawanan pihak muslim. Tawanan itu pun diajukan ke hadapan Rasulullah. Segera setelah melihat Sumamah, beliau memerintahkan para sahabat di sekelilingnya agar memperlakukannya dengan baik. Sumamah sangat rakus bila makan, bahkan bisa melahap jatah makanan sepuluh orang sekaligus tanpa merasa bersalah.

    Setiap kali bertemu Nabi ia selalu mengatakan, “Muhammad! Aku telah membunuh orang-orangmu. Jika kamu ingin membalas dendam, bunuh saja aku! Namun jika kamu menginginkan tebusan, aku siap membayar sebanyak yang kamu inginkan.”
    Rasulullah hanya mendengarkan ucapannya dan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Beberapa hari kemudian Rasulullah membebaskan Sumamah pergi. Setelah melangkah beberapa jauh, Sumamah berhenti di bawah sebuah pohon. Ia selalu berpikir, berpikir, dan berpikir. Kemudian ia duduk di atas pasir dan masih tetap tidak habis pikir. Setelah beberapa lama ia bangkit, lalu mandi, dan mengambil air wudlu, kemudian kembali menuju rumah Rasulullah. Dalam perjalanan menuju rumah Rasulullah ia menyatakan masuk Islam.
Sumamah menghabiskan beberapa hari bersama Rasulullah dan kemudian pergi ke Mekah untuk mengunjungi Ka’bah. Sesampainya di sana, Sumamah menyatakan dengan suara lantang, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.”
    Saat itu Mekah masih berada di bawah kekuasaan Quraisy. Orang-orang menghampirinya dan mengepung. Pedang sudah terayun-ayun mengintai kepala dan lehernya. Salah seorang dari kerumunan itu berkata, “Jangan bunuh dia! Jangan bunuh dia! Dia adalah penduduk Imamah. Tanpa suplai makanan dari Imamah kita tidak akan hidup.”
    Sumamah menimpali, “Tetapi itu saja tidak cukup! Kalian telah sering menyiksa Muhammad. Pergilah kalian menemuinya dan minta maaflah pada beliau dan berdamailah dengannya! Kalau tidak, maka aku tidak akan mengizinkan satu biji gandum pun dari Imamah masuk ke Mekah.”
Sumamah kembali ke kampung halamannya dan ia benar-benar menghentikan suplai gandum ke Mekah. Bahaya kelaparan mengancam peduduk Mekah. Para penduduk Mekah mengajukan permohonan kepada Rasulullah, “Wahai Muhammad! Engkau memerintahkan agar berbuat baik kepada kerabat dan tetangga. Kami adalah kerabat saudaramu, akankah engkau membiarkan kami mati kelaparan dengan cara seperti ini?”
     Seketika itu pula Rasulullah menulis surat kepada Sumamah, memintanya untuk mencabut larangan suplai gandum ke Mekah. Sumamah dengan rela hati mematuhi perintah tersebut. Penduduk Mekah pun selamat dari bahaya kelaparan. Seperti yang sudah-sudah, setelah mereka kembali menerima suplai gandum, mereka mulai mempersiapkan rencana busuk untuk menyingkirkan Rasulullah.

      Mengapa Sumamah masuk Islam? Sumamah masuk Islam karena ia mendapat perlakuan baik dari Rasulullah dan para sahabat. Padahal, saat itu Rasulullah punya kuasa untuk menghabisi nyawa Sumamah, baik dengan tangannya sendiri maupun melalui para sahabat. Kalaupun Sumamah dibunuh, wajar karena ia telah membunuh banyak orang dari kaum Muslim.
    Namun, mengapa Rasulullah tidak berbalas dendam kepada Sumamah atas banyaknya korban nyawa kaum Muslim? Di sinilah letak keluhuran budi Rasulullah. Untuk “menjinakkan hati” seseorang, Rasulullah tidak dendam dengan melakukan tindak kekerasan yang sama—seperti yang pernah dilakukan oleh Sumamah terhadap kaum Muslim. Rasulullah justru menunjukkan sikap baiknya dengan memberi makan—seperti yang disukai Sumamah. Karena telah menaruh simpati yang dalam terhadap Rasulullah, ia masuk Islam dan ia memenuhi permintaan Rasululah Saw untuk mencabut larangan suplai gandum bagi penduduk Mekah.
     Keluhuran budi Rasulullah Saw. tak diragukan lagi, baik terhadap kawan maupun lawan. Beliau adalah sosok ideal yang layak kita tiru, tidak terkecuali dalam dakwah. Dengan sikap lembutnya, beliau mampu menyuguhkan dakwah memikat. Sejarah telah membuktikan kepada kita betapa Rasulullah Saw selalu berhasil menaklukkan lawan bicara dan akhirnya mereka tertarik serta masuk Islam dengan penuh kesadaran. Keberhasilan dakwah Nabi Muhammad Saw. dapat kita rasakan hingga hari ini di mana Islam mampu menembus pelosok dunia yang semakin mengglobal.
***
    Dunia global telah merangsang perkembangan di berbagai aspek kehidupan. Objek dan tantangan dakwah pun semakin komplek. Para penggiat dakwah dituntut untuk mengimbangi kecerdasan objek dan tantangan dakwah tersebut. Momen Maulid Nabi Muhammad Saw dapat menjadi historic research (penyelidikan sejarah) bagi kaum Muslim, sehingga dapat meneledani strategi dakwahnya.
     Derasnya arus informasi menuntut kita lebih giat menyuarakan kebenaran dan waspada atas berbagai efek negatif era global. Maraknya gerakan radikalisme agama merupakan salah satu dampak negatif globalisasi yang kini menjadi tantangan terberat dakwah Islam. Hampir-hampir umat Islam digiring untuk membenci kelompok non-Islam dan diprovokasi untuk berkonflik dengan aliran-aliran yang berbeda dengan arus utama. Jika fenomena ini dibiarkan, maka umat akan tercabik-cabik karena kebencian dan permusuhan.
    Sikap Rasulullah Saw memperlakukan musuh harus kita jadikan rujukan dalam dakwah era global yang semakin banyak tantangan. Demi integrasi dan keutuhan umat Islam dan umat beragama lain, dakwah persuasif yang mendahulukan keluhuran budi pekerti mesti kita tonjolkan. Jangan sampai umat terkoyak-koyak dengan berbagai hasutan yang mengarah pada kebencian dan permusuhan. Apa jadinya bangsa ini jika umat beragama hidup dalam ketidakharmonisan.










DAFTAR PUSTAKA
http://www.jafarsoddik.com/refleksi/Meneladani-akhlak-Rasulullah

Bottom of Form
Top of Form
Bottom of Form



Tidak ada komentar: